Cerita Sex 17 pLus pLus

10.13.2008

Jam beker dimeja kamarku berdering pada jam 09.00 pagi, memang aku mensetting pada jam itu, karena tadi sampai terdengar adzan subuh aku masih belum bisa memejamkan mata untuk tidur. Aku menggeliatkan tubuhku terdengar kerotokan pada pinggangku, dengan malas aku bangkit dari tempat tidur… ups.. aku lupa kalo aku tadi tidur dengan tubuh telanjang bulat… kulihat tubuhku dari pantulan cermin besar.. mmm… dalam usia hampir kepala 4, kulihat tubuhku masih bagus dilihat… buah dadaku yang berukuran bra 36 B masih cukup kenyal, pinggangku masih ramping tak berlemak, pinggul dan pantatku kata mas Seno, almarhum suamiku adalah bagian yang terindah dari tubuhku, sangat seksi dan serasi dengan sepasang kakiku yang panjang… wajahku…? kata mas Seno lagi, katanya wajahku lebih pantas dibilang seksi daripada cantik… entahlah penilaian lelaki memang susah dijabarkan oleh perempuan….Sssssshhh… ooohhh… gila, lagi-lagi gairah birahiku meletup dengan tiba-tiba… di depan cermin besar itu aku meremasi buah dada montokku sendiri yang kian mengencang… ammpuuuun… sudah 2 hari 2 malam ini aku sangat menderita karena birahi gila ini… entah berapa belas kali selama 2 hari 2 malam ini aku bermasturbasi…sampe tubuhku benar-benar loyo.

Bahkan pada hari pertama aku sempat melakukan masturbasi di belakang kemudi mobil di tengah keramaian jalan tol, saking ngga ketahan… Semalam, dengan diiringi adegan-adegan syur film bokep koleksi almarhum mas Seno… aku melampiaskan hasrat birahiku secara swalayan, mungkin lebih dari 10 kali sampai pagi menjelang…Maka betapa jengkelku, sekarang belum setengah jam mataku terbuka, gelegak birahi itu meletup lagi… kali ini aku melawan, aku masuk kamar mandi, kuguyur tubuhku dengan shower air dingin… agak menggigil juga tubuhku…. Aku memang wanita berlibido tinggi. Sejak ABG aku sudah kenal masturbasi… menjelang lulus SMU aku mengenal persetubuhan dan berlanjut menjadi doyan disetubuhi… Masa kuliahku adalah masa euphoria sex, karena aku kuliah di Bandung sementara orang tuaku di Jakarta… pada awal masa kuliahku, aku pantas dijuluki Pemburu Seks… beberapa kali aku diusir dari tempat kost yg berbeda, dengan sebab yg hampir sama… yang aku ingat, sore pulang kuliah diantar teman kuliahku, aku lupa namanya… pokoknya keturunan Arab… aku lupa bagaimana awal mulanya, aku bisa nyepong kemaluan Arab ganteng itu di dalam kamarku dalam keadaan pintu ngga terkunci dan Ipah pembantu ibu kost yg nyinyir itu nyelonong masuk kamarku utk menaruh pakaianku yg habis diseterikanya… aku tengah terkagum-kagum dengan volume batang kemaluan Arab ganteng yang lebih besar dari lenganku dan minta ampun panjangnya.

Malam itu juga aku disidang dan harus keluar dari rumah kost itu. Tapi buatku ga ada masalah karena malam itu si Arab ganteng memberikan tumpangan sementara di rumah kontrakannya… tentu saja gairah birahiku yang binal dimanjakan oleh Arab ganteng itu… sepanjang hari… bahkan sampai beberapa hari aku tinggal di rumah kontrakan si Arab ganteng yang berantakan… Kejadian yg lain pernah juga tengah malam, lagi seru-serunya ML sama cowok baruku… tiba-tiba pintu didobrak petugas ronda yg rupanya sudah lama memperhatikan kebiasaanku masukin cowok malam-malam… cowokku dengan tengilnya berhasil kabur… sementara aku lagi-lagi terpaksa harus cari kost baru lagi… Satu lagi yang ga bakal aku lupa, affairku dengan bapak kost, biar sudah tua tapi ganteng dan handsome.. dan yang membuatku bertekuk lutut… mmm… aksi ranjangnya boo’… selalu membuatku bangun kesiangan esoknya… sayang aku menikmati kencan ranjang dengan bapak kost baru tiga kali keburu ketangkap basah sama istrinya… abis siang bolong bapak itu ngajakin naik ranjang… apesnya lagi aku ga akan mampu menolak, kalo tetekku sudah kena diremasinya… baru mau dua kali aku mendapatkan orgasme… eeh…pintu di ketok-ketok dari luar dan terdengar suara ibu kost memanggil namaku… mendengar itu bapak kost yg sedang memainkan batang kemaluannya di liang sanggamaku, jadi gugup dan efeknya justru membuatnya orgasme, untung gak telat nyabut… pejunya berhamburan di atas perutku banyak sekali…. bisa ditebak endingnya… aku harus angkat kaki dari rumah kost saat itu juga…

Nasihat sahabat-sahabatku, banyak merubah perilaku seksualku yang liar… Dengan susah payah aku berhasil menekan hasrat birahiku yang memang luar biasa panas dan aku mengumbarnya… awalnya mana sanggup aku menahan seminggu tanpa aktivitas seksual… bakal uring-uringan dan kepala terasa pecah… Sampai akhirnya aku ketemu dengan mas Seno aktivis mapala kakak kelasku… ngga hanya sosoknya yang jantan… permainan ranjangnyapun luar biasa… permainannya yang agak kasar, mampu membuatku mengerang-erang histeris… Aku ga nyesel, harus married dengan mas Seno karena keburu hamil. Buktinya aku berhasil menyelesaikan kuliah, walaupun sambil mengasuh Astari buah cintaku dengan mas Seno. Status ekonomi kamipun tergolong bagus… Sampai akhirnya 5 tahun yg lalu, kecelakaan mobil di jalan tol merenggut mas Seno dari kami berdua… Selama 5 tahun menjanda, mungkin karena kesibukanku mengurus dan melanjutkan usaha mas Seno yang sedang menanjak pesat dan keberadaan Astari anak tunggalku sudah menginjak usia gadis remaja, aku hanya 2 kali terlibat affair dengan lelaki yg berbeda, itupun juga hanya having fun semata, penyegaran suasana disela-sela kesibukan bisnis… Kehidupan seksualku datar, tanpa gejolak… sesekali aktivitas masturbasi cukup memuaskanku…

Setelah tubuh terasa segar, kukenakan kimono dan keluar kamar…

” Heee… Ron kamu disini..? kok ga sekolah..?” Kudapati Ronie di belakang komputer Astari. Ronie adalah kakak kelas Astari yang hampir setahun ini akrab dengan anak gadisku itu. Anak muda yang sopan dan pandai cerminan produk dari keluarga yang cukup baik dan mapan.

” Iya tante, saya hari ini kebetulan banyak pelajaran kosong jadi bisa pulang lebih awal dan tadi Tari minta tolong saya nungguin tante yg lagi sakit.. kali aja butuh apa-apa” Sahut Ronie sopan, membuatku terharu… Lumayan ngobrol dengan Ronie, penderitaanku agak berkurang…

” Ron, kamu bisa mijit ga..? tolongin pijitin tante dong bentar… leher tante kaku…” pintaku ke Ronie tanpa canggung, karena memang kami sudah akrab sekali, bahkan buatku Ronie kaya anakku sendiri. Ronie duduk menghadap punggungku pijatan demi pijatan kurasakan… tanpa kusadari sentuhan tangan lelaki muda itu terasa nikmat selayaknya sentuhan lelaki yang tengah membangkitkan birahi perempuan… aku mulai mendesah resah… percikan api birahi dengan cepat membakarku tanpa ampun…. sementara tanpa kusadari kimonoku sudah semakin melorot, terdesak tangan Ronie yang kini memijit daerah pinggangku, atas permintaanku sendiri untuk memijit lebih turun…. uuuhh… dadaku terasa sesak.. akibat tete’ku yang semakin mengencang…. aku ingin ada yang meremasinya… Sssshhh.. ooohhh… gilaaa… ngga tahaann… kupegang kedua tangan Ronie, tangan kiriku memegang tangan kirinya dan tangan kananku memegang tangan kanannya kutarik kedepan melingkari tubuhku dan kutangkupkan di buah dadaku…

” Eehh… tante…?” bisik Ronie bingung dari belakang tubuhku

” Ron… tolong remasi tete’ tante…” desisku resah… merasakan sentuhan tangan lelaki pada buah dadaku yg tengah mengencang…. Benar-benar hilang sosok Ronie yg sehari-hari adalah pacar Astari anakku.. yang ada dibenakku saat itu Ronie adalah lelaki muda bertubuh tegap… Ooouuh… Ronie mulai meremasi kemontokan buah dadaku…

” Yaaaaahh.. hhh…hhh… enaaaak Ronn.. ulangi lagi sayaaang.. oooohhh….” tubuhku menggeliat resah… kugapai kepala Ronie dan kutarik ke arah tengkukku yang terbuka karena rambutku kusanggul keatas… Ronie tak menolak dan melakukan permintaanku untuk menciumi tengkukku..

” Ciumi leher tante… hhhmmm..sssshhh.. yaaahh.. kecupin sayaaang.. aaaaccchh… sssshhh..” bisikan dan desah mesraku menuntun Ronie melakukan apa yg kuminta…Aku makin gemas, tubuhku gemetaran hebat… baju kimonoku tinggal menutupi tubuh bawahku karena tali pinggangnya masih terikat. Kubalikkan tubuhku, sejenak kupandangi wajah ganteng Ronie yang matanya terbelalak liar menatap nanar tubuh bagian depanku dengan mimik ngga karuan. Kulingkarkan kedua lenganku di lehernya dan dengan penuh gairah kusosot bibir manisnya… anak muda ini gelagapan menghadapi liarnya bibirku yang mengulum bibirnya dan nakalnya lidahku yang menggeliat menerobos masuk rongga mulutnya… Tapi insting lelakinya segera mengantisipasi, segera dapat mengatasi seranganku.

Baju seragam Ronie dengan cepat kulolosi dan… ooohh… dada yg gempal dan bidang dari salah satu tim inti basket di sekolahnya ini membuat gairahku semakin binal… Kudorong tubuh Ronie untuk rebah disofa… nafas jantannya mulai tak beraturan.. Mmm… pejantan muda ini mulai mengerang-erang dan tubuhnya menggelepar, tatkala bibir dan lidahku menjelajahi permukaan kulit dadanya, bungkahan dada jantannya kuremas dengan gemas.. Aksi bibir dan lidahku terus melata sampai ke pusarnya… Sssshhh… celananya tampak menggembung besar.. entah ada apa dibaliknya..? jantungku berdegup semakin kencang melihatnya… dan mataku terbelalak dibuatnya, sampai aku harus menahan nafas, ketika retsluiting celana abu-abu itu terbuka… kepala kemaluan jantan menyembul keluar dari batas celana dalamnya…. aku dengan tergopoh-gopoh karena tak sabar melorotin celana seragam sekalian dengan celana dalam putihnya sampai ke lutut Ronie… Ooooohhh my God..! teriakku dalam hati… menyaksikan batang kemaluan Ronie yang mengacung di antara pahanya… begitu macho, begitu gagah, begitu indah bentuknya… dengan kepala kemaluannya yang besar tampak mengkilat…

Tanganku terasa gemetaran ketika hendak menyentuh nya… Kembali tubuh Ronie menggerinjal kecil ketika tanganku bergerak mengocok batang kemaluannya… aku makin binal, kudekatkan wajahku untuk mengulum kepala kemaluan yang menggemaskan itu, sambil tetap tanganku bergerak mengocok batang kemaluannya… mendadak tubuh tegap itu meregang hebat diiringi erangan keras… dan bibirku yang setengah terbuka dan tinggal beberapa sentimeter dari kepala kemaluan itu merasakan semburan cairan hangat dengan menyebarkan aroma khas yg sangat kukenal dan kurindukan… apalagi kalo bukan peju lelaki… tanganku refleks mengocok batang kemaluan Ronie makin cepat sambil tanganku yang lain mengurut lembut kantung pelirnya…

Sementara kubiarkan peju yang sangat kental itu menyembur wajahku…. sesekali kusambut dengan lidahku… mmmm… rasa khas itu kembali dikecap oleh lidahku…Terus terang aku sempat kecewa, dengan bobolnya peju Ronie….Tapi beberapa saat batang kemaluan yang masih dalam genggamanku, kurasakan tak menyusut sedikitpun masih tetap keras… tanpa buang waktu, aku merangkak diatas tubuh Ronie yang menggelosoh di sofa… dengan posisi tubuhku jongkok mengangkangi tubuh Ronie, di atas kemaluan Ronie… kutuntun batang kemaluan perkasa yang masih belepotan peju itu kearah liang sanggamaku yang sudah basah kuyub dari tadi… wooohh… ternyata kepala kemaluan itu terlalu besar untuk masuk ke liang sanggamaku… Akhirnya dengan sedikit menahan perih, akibat otot liang sanggama yang dipaksa membuka lebih lebar.. kujejalkan dengan sedikit memaksa ke liang sanggamaku yang sudah tak sabar untuk segera melahap mangsanya….

” Iiiiihhh… bantu dorong sayang…. Oooooowwwwww…” Aku merengek panjang ketika sedikit demi sedikit amblas juga batang kemaluan Ronie menembus liang sanggamaku.. diiring rasa perih yang menggemaskan…

” Sssshhh… mmmhh… ayun pinggulmu keatas sayaaang..” kembali aku menuntun pejantan muda ini untuk memulai persetubuhan…

” Aaaww… aahh… ooww.. pelahan duluuu sayaaang… burung kamu gede banget… perih tauuk..” aku ngedumel manja… ketika Ronie mengayun pinggulnya kuat sekali… Terasa tubuhku bagaikan baterai yang baru dicharge… aliran energi aneh itu mengalir menyebar ke seluruh tubuhku… membuat aku semakin binal memainkan goyangan pinggulku… sementara Ronie ternyata cukup cerdas menyerap pelajaran, bahkan mampu segera mengembangkan… dengan posisi tubuhku diatas, membuatku sangat cepat mencapai orgasme… entahlah atau karena besarnya batang kemaluan Ronie yang menyungkal rapat liang sanggamaku, sehingga seluruh syaraf dinding liang sanggamaku rata dibesutnya… Luar biasa..! dalam waktu kurang dari lima menit setelah orgasmeku yg pertama, kembali aku tak dapat menahan jeritku mengantar rasa nikmatnya orgasme yang kedua… dan… hhwwwoooo…. aaaammmpppuuunnn..!!!! Rupanya Ronie tak mampu menahan lebih lama bobolnya tanggul pejunya… tubuhku dihentak-hentaknya kuat sekali… seakan ingin memasukkan seluruh batang kemaluan sepeler-pelernya ke liang sanggamaku… diiringi erangan mirip suara binatang buas sekarat…

Aku menangis menyesal setelahnya, berkali-kali Ronie memohon maaf atas kejadian yang terjadi siang itu…Tapi anehnya gairah seksualku yang meletup-letup tak terbendung itu, mereda setelah kejadian siang itu… Aktivitas berjalan normal kembali, tapi sudah hampir seminggu ini, aku tak pernah melihat Ronie datang ke rumah.

” Dia lagi sibuk Ma… dapat tugas antar jemput saudara sepupunya yang masih SD…” Jawab Astari ketika aku menanyakan tentang Ronie yang tak pernah muncul… Terus terang saja, sejak kejadian itu… pikiranku sangat kacau, disisi aku sebagai Mama Astari aku sangat menyesal dan sedih atas kejadian itu, tapi disisi aku sebagai seorang wanita yang masih punya hasrat dan naluri betina yang utuh… aku tak ingin melupakan kejadian itu… bahkan aku berharap kejadian itu terulang lagi….

Hampir sebulan lamanya Ronie tak muncul ke rumah, akupun maklum, Ronie sebagai remaja hijau, tentu mengalami shock dengan kejadian itu… disitulah muncul rasa berdosaku kepada Ronie dan Astari anakku… Tapi jujur sejujurnya ada terselip rasa rinduku memandang wajah anak muda itu… Aku sering mengintip dari balik gordiyn jendela, saat Astari turun dari boncengan Ronnie… kenapa hatiku berdebar-debar dan sedikit desiran birahiku menggelegak…

Pikiranku makin kacau… setelah beberapa kali kulihat Ronnie mulai nongkrong lagi dirumah… kulihat Ronnie masih salah tingkah di depanku, walaupun aku sdh berusaha menetralisirnya.. iiihhh tapi buat aku… otakku jadi ngeres begitu melihat wajah Ronnie yg innocent… betapa tidak… terbayanglah ekspresi wajahnya ketika tengah menyetubuhiku beberapa waktu yang lalu… ekspresi wajahnya yang begitu sensual dimataku pada saat dia melepas semburan spermanya… suara erangan dan nafas birahinya seakan nempel ditelingaku… maka kekacauan inilah yang mendorongku menerima tawaran Adrian seorang rekan bisnisku untuk makan siang di sebuah hotel berbintang dan setelahnya akupun tak menolak ketika ia mengajakku memasuki sebuah president suite di hotel itu, dengan alasan untuk mencari ketenangan membicarakan pekerjaan… walaupun yang terjadi kemudian adalah rayuan-rayuan mautnya yang kusambut positif… dari remasan tangan… kecupan bibir… jilatan lidahnya yang nakal pada leherku… desah resahku… remasan gemasku… dan… lolosnya pakaian kami satu persatu… payudaraku yang mengencang akibat remasan tangan dan cumbuan bibirnya… hhmmm… jilatannya pada clitorisku… batang kemaluannya yang berbentuk indah, perkasa… memaksa bibirku untuk mengulumnya… ooowww… nikmat hentakan tubuhnya menekan tubuhku… sodokan kejantanannya pada liang sanggamaku mengantarkan kenikmatan orgasmeku dua kali berturut-turut… 2 jam kami melewatkan waktu untuk making love siang itu, kekaguman Adrian atas permainan ranjangku yang begitu hot dan lihay… beberapa kali aku berkencan ranjang dengan Adrian lelaki tinggi besar berstyle dandy… kepuasan sex kuraih dengan sempurna dengan kelihayannya dia memperlakukan perempuan di atas ranjang… tapi bayangan sensual wajah bocah innocent bernama Ronnie itu tak juga sirna…

Sampai pada suatu malam hujan turun dengan deras… rupanya malam itu Ronnie sedang dirumah, berbincang dengan Astari di ruang tamu… sedangkan aku nonton TV diruang belakang…

” Ma, mas Ronnie mo pulang tuh…” terdengar suara Astari dari belakangku…

” Eh… pulang..? hujannya gede banget, tunggu reda aja.. jauh lagi rumah Ronnie..” jawabku spontan sambil bangkit dari dudukku berjalan ke ruang depan… kulihat jam memang sudah terlalu malam untuk bertamu…

” Ronn… ujan begini lebat, udah malem lagi… ntar ada apa-apa di jalan… sudah deh Mama kasih kamu nginep disini, tidur di kamar atas, besok subuh Mama bangunin kamu…” ujarku, terdorong rasa sebagai orang tua yg khawatir kepada anaknya… Ronnie menunduk salah tingkah ga berani menolak..

” Tapi Ronnie harus telpon rumah dulu tante…” sahutnya pelan… dan akhirnya justru aku yang menelpon kerumah Ronnie memintakan ijin orang tua Ronnie, yang ternyata menyambut baik…

Malam semakin larut, sementara hujan semakin hebat diserta guntur dan kilatan petir… Aku tergolek di ranjang, tak dapat memicingkan mata… Siang tadi kembali Aku melewati kencan ranjang dengan Adrian…. tapi… entah kenapa kali ini… susah sekali aku mencapai orgasme… sampai 2 kali Adrian menumpahkan spermanya… sedangkan aku tak sekalipun.. Gilaaa… kenapa justru sekarang wajah bocah itu yang terbayang-bayang di malam dingin ini… iiihhh… birahiku meletup- letup gila… ampuuunn… sekarang bocah itu ada dilantai atas… tunggu apa lagi..??? mmmm… bisikan setan.. aku tak mampu menahan tubuhku yang berjalan manapaki tangga… dan kini aku di depan pintu kamarnya… tanpa mengetuk kubuka pintu… ternyata Ronniepun masih belum tidur…

” Ronnie kamu belum tidur..?” tanyaku gagap… kenapa aku jadi salah tingkah sekarang…?

” Tante juga belum tidur…?” sahutnya… iiihh… jawabannya begitu tegas… aahh… siapa yg menuntunku duduk diranjangnya… mmm… darahku berdesir ketika tahu mata Ronnie menatap dada montokku yg memang tak mengenakan bra, sehingga puting susuku tercetak menonjol dibalik gaun tidurku yg memang berbahan tipis, sehingga semburat kecoklatan aura puting susukupun nampak jelas, kembali aku kehilangan kontrol… dan entahlah bagaimana awalnya dan siapa yang mengawali…. bibirku sudah dalam lumatan bibir Ronnie… sergapan nafsu birahiku tak dapat kuelakkan dan remasan lembut tangan lelaki muda pada buah dadaku melambungkan gairah seksualku… gelitikan lidah nakalnya pada puting susuku membuat tubuhku menggeliat erotis disertai erangan manjaku… satu demi satu pakaian beterbangan meninggalkan tubuh kami… aku begitu hot dan bergairah mencumbui tubuh pacar anakku itu… tapi aku sudah melupakan siapa Ronnie, yang aku tahu Ronnie adalah lelaki muda yang siap memenuhi kebutuhanku ooowww… aku tak menyangka kali ini Ronnie lebih lihay dan lebih berinisiatip melakukan serangan, sampai aku hampir tak percaya ketika Ronnie menyurukkan wajahnya di selangkanganku dan mencumbui bibir kemaluanku…

” Ronnn…. sssshhh…. kamu piiiinteer sekarangg… ooohh.. ammpuunn nikmaaaatnyaa…” desahku merasakan nikmat cumbuan lidahnya pada clitorisku, membuat Ronnie tambah semangat… Ketika permainan yang sesungguhnya berjalan… sebagai wanita dewasa yang telah berpengalaman menghadapi gairah lelaki… aku dibuat megap-megap menghadapi serangan pejantan muda ini… hajaran batang kemaluannya yang perkasa pada liang sanggamaku tak kenal ampun… membuat aku mengerang merintih bahkan menjerit setengah histeris… untung suara hujan yang lebat di timpa suara guruh meredam suaraku…. luluh lantak tubuhku dihajar aksi ganas Ronnie… tapi buatku adalah sebuah sensasi seksual yg sangat luar biasa.. yang mengantarku meraih dua kali kenikmatan orgasme…. tubuh telanjang kami terkapar lunglai di ranjang yang kusut spreinya, tak ada sesal kali ini…

“Ronnie jujur sama Tante… setelah waktu itu kamu maen sama perempuan mana…?” tanyaku datar dg nada dingin.

” Aaah… nggak, sekali-sekalinya cuma sama Tante Arsanti..” jawab Ronnie agak gugup menyebut namaku..

” ga mungkin, kamu mendadak bisa begitu canggih mencumbu Tante…?” desakku… dan akhirnya Ronnie menceritakan pengalaman setelah pengalaman seksualnya yang pertama, Ronnie banyak nonton blue film dan otak cerdasnya banyak menyerap gaya dan cara bercinta dari film-film biru yang ditontonnya…

“Mmmmm… kaciaaan… kamu tentunya kangen mencumbu Tante ya sayaang…?” bisikku sambil kudaratkan kecupanku ke bibirnya, tubuhku bergerak menindih tubuh atletis Ronnie, tubuhku direngkuh dan tubuh kami menempel ketat… kuajarkan permainan lembut… mmmm… anak pintar ini dengan cepat menguasai permainan baru yg kuajarkan… dengan telaten setiap inchi tubuhku dirambahnya dengan remasan, gerayangan tangannya yang nakal… jilatan dan kecupannya merambah setiap bagian tubuhku yang sensitif… tubuhku menggeliat erotis… kadang menggelepar liar… rintihanku mulai terdengar… tak dapat kutahan desah gelisahku… diselingi jeritan gemas…

” Ayo sayaang…hh..hhh… Tante udah ga tahan…” bisikku lembut, setelah aku nggak tahan lagi merasakan kuluman dan jilatan Ronnie pada clitorisku…

” Aoooouuuhhh… Roooonnn….hhh…hhhh…” suaraku terdengar bergetar memelas… mataku meredup sayu menatap wajah imut Ronnie, manakala liang sanggamaku untuk kesekian kalinya ditembus batang kemaluan bongsor milik Ronnie, namun kali ini Ronnie menekan pelan sekali, sehingga terjadi gesekan nikmaaaaat yang lama sekali… sehingga kedua kakiku yang melingkari pinggangnya seakan mengejang, tak tahan menahan kenikmatan yang luar biasa…

“Enaaak Tante..?” bisiknya lembut sambil tersenyum manis, ketika liang sanggamaku sudah tak ada tempat lagi bagi batang kemaluannya… iiih… menggemaskan bibirnya… aku menjawab dengan mengangkat alis… bibirku kembali menyambar bibir yang menggemaskan itu… ciuman dan kuluman panjang dimulai, dorongan gelegak birahi kami memang luarbiasa, permainan semakin panas dan semakin liar, ekspresi kami total menyembur tanpa kendali…kembali tubuhku dihentak-hentak oleh tenaga perkasa Ronnie dengan garangnya… jeritan dan rintihanku silih berganti ditimpa dengus nafas birahi ronnie yang mengeros buas…

“Aaaahhhkkk…. Roonnnie ssaayaang…. aammppuuunn…ooowww… ssshhh… niiikmaaat banggeet ssiih…???” rengekku dengan suara memelas, namun tarian pinggulku dengan gemulai masih dengan sengit mengcounter rajaman batang kemaluan Ronnie di liang sanggamaku sehingga terdengar bunyi berceprotan di selangkanganku… gillaaa.. susah untuk kuceritakan sensasi malam itu…

“Tante…hhh…hh.. Ronnie ampiir… sssshhh..” desis ronnie dengan suara bergetar… matanya garang menatapku… iiihhh mengerikan, tapi aku sngat menyukai ekspresi ini

” Ayoooo sayaanggg…. semburkan bareng Tante… ooouuuuhhhh….!!” Ya ammppuuun… mengerikan sekali… tubuhku terguncang-guncang hebat, akibat hentakan tubuh Ronnie menghajar liang sanggamaku pada detik puncak… mulutku menganga lebar tanpa suara, tanganku mencengkeram erat pinggiran ranjang…. dan entah apa yang terjadi, karena pada saat itu orgasmekupun meletus dahsyat…

Entah berapa lama suasana hening, hanya suara nafas kami terengah-engah yg terdengar…. hujan di luar rupanya sudah berhenti juga….

” Tante… boleh Ronnie pulang sekarang, hujan kayanya sudah berhenti…” suara Ronnie memecah keheningan…

” Hmmm… sebenernya Tante masih pingin meluk kamu, pingin cumbuin kamu sayaaang… ini ditinggal buat Tante aja yah..?” sambil kuremas batang kemaluan yg masih sembab…

“Titit kamu buat Tante aja ya sayaang… jangan buat orang lain… apalagi buat Astari… awas Tante bisa marah besar..” sambungku dengan nada serius… Ronniepun mengangguk tegas. Kuantar Ronnie ke garasi tempat motornya diparkir, kubiarkan tubuhku bugil, telanjang bulat…. Gila… digarasi masih sempat kulakukan oral sex… kutelan habis peju segar yg menyembur di dalam mulutku…. Capek yang luar biasa kurasakan setelahnya, badan rasanya lengket-lengket dan bau gak jelas…


8.12.2008

Aku membuka mata kembali saat kurasa Tante Vivi menghentikan gerakan pinggul seksinya yang aduhai. Kini ia merebahkan tubuhnya yang berkeringat basah di atas tubuhku, kedua buah dadanya yang sebesar melon menekan lunak dan terasa kenyal di dadaku. Batang penisku masih perkasa tegak 100 % walau isinya serasa sudah terkuras habis.., jepitan daging liang vaginanya masih kurasakan begitu hebat meremas dan mengenyot alat kejantananku yang masih terbenam kandas di dalam situ.
“mm.., bagaimana Ar.., nikmat sayangg..”, bisiknya sambil memandang genit ke arahku.
“Ahh.., kau luar biasa sekali Vi..”, sahutku lirih. Masih lemas.
“Air manimu banyak sekali Ar..”, ujarnya polos. Wajahnya yang cantik kelihatan tersenyum puas bisa membuatku tak berdaya. Kuelus rambut hitamnya yang terurai panjang sampai menerpa leherku yang basah berkeringat.

“Kenapa Vi..? kau tidak suka air maniku sebanyak itu.”, tanyaku lemas.
“iihh.., hik.., hik.., tidak Ar.., cuman.., Tante khawatir kalo sampai hamil..”, bisiknya padaku tetap dengan senyum manisnya.
“aah.., Vi.., kau jangan nakut-nakuti gitu dong.., kita khan cum..”, Belum habis omonganku, Tante Vivi menempelkan jari telunjuk tangan kanannya ke bibirku.
“sstt.., Tante tau Ar.., Sudahlah.., ini cuman seks khan sayang..”, bisiknya lagi.
“Cupp..”, Mulutku mengecup gemas bibir ranumnya yang nakal itu. Sejenak kami saling bercumbu beradu bibir, saling mengulum dan mengecup.., begitu nikmat rasa bibir Tante Vivi itu.

Ketika kecupan mesra itu berakhir, aku berbisik mesra padanya.
“Vi.., aku masih punya kejantanan yang lain..”, kataku gemas.
“Apa itu Ar..?”, tanyanya mesra. Bibir ranumnya kelihatan basah habis kukecup dan kukulum tadi.
“Kamu belum puas khan Vi..?”, ujarku balas bertanya.
“Iyaa Ar.., mm.., tapi Tante capek sayang..”, bisiknya sambil mengerling genit.
“Aku yang akan memuasimu sekarang Vi..”, bisikku gemas.
“mm..”, ia tak menjawab, namun matanya dipejamkan seolah membayangkan apa yang akan aku lakukan.

Aku jadi bernafsu, membuat batang penisku yang masih terbenam nikmat di dalam liang vaginanya yang sempit jadi semakin berdiri dan tambah perkasa.
Aku memeluk pinggang Tante Vivi yang kecil dan ramping dengan erat, sambil kubisikkan kalimat mesra di telinganya. Dengan tersenyum senang dan saling berdekapan erat kugulingkan tubuh Tante Vivi ke samping kiri tempat tidur, lalu dengan posisi batang penisku masih tetap terbenam terjepit di dalam liang vaginanya, kugulingkan tubuhku ke samping sekali lagi dan menaiki tubuh Tante Vivi yang kini ganti berada di bawah tindihanku.

Woowww.., nikmatnya menindih tubuh bugil montoknya yang hangat. Terasa hangat empuk dan mulus sekali kulit tubuhnya. Apalagi sembari menikmati jepitan daging tubuhnya yang sangat terlarang itu.
Sejenak kami terdiam saling berpandangan mesra.
“Ar.., jujur saja.., sudah berapa wanita yang pernah kamu tiduri..?”, tanyanya pelan. Aku tersenyum geli mendengar pertanyaannya yang spontan dan sedikit aneh.
“mm.., baru seorang saja.., Vi..”, kataku terus terang.
“Selva khan..?”, tanyanya lagi.
“Bukan Vi.., orang lain..”, bisikku pelan. Pertanyaannya itu benar-benar membuat rasa bersalah itu hadir kembali dalam batinku.
“mm.., kamu nakal Ar.., awas sayang jangan menghianati Selva yaahh..”, bisiknya sedikit serius. Jemari tangannya mencubit pinggangku gemas.
oohh.., aku tak ingin melepas kenikmatan ini terlalu lama dengan soal Dina atau Selva karena hanya makin mengingatkanku dan menambah rasa bersalahku pada mereka. Aku menundukkan muka dan kembali mengulum bibir ranum Tante Vivi dengan gemas. Tante Vivi membalas cumbuanku tak kalah mesra, kedua mulut kami saling berpagutan mesra beberapa saat.

“Ar.., puasi Tante sayang..”, bisiknya manja di telingaku. Aku tersenyum penuh gairah mendengar permintaannya. Kukecup sekilas bibir ranumnya sekali lagi, lalu sambil saling berpandangan mesra, kutarik pinggulku keatas secara perlahan mengeluarkan batang penisku dari dalam jepitan liang vaginanya sampai keluar kira-kira sekitar 8-10 centi lalu dengan perlahan pula kembali kuturunkan pinggulku ke bawah memasukkan kembali alat kejantananku ke dalam liang vagina sempitnya yang seolah menyambut mesra dengan remasan dan urutan-urutan lembut penuh kenikmatan.
“uuhh..”. Tante Vivi merintih pelan keenakan sambil tetap tersenyum manis kepadaku. Kedua jemari tangannya mengusap-usap mesra pantatku yang lagi asyik secara teratur mulai bergerak turun naik menyetubuhinya.
“Uuhh.., uuhh.., uuhh..”, erang Tante Vivi lirih setiap kali batang penisku kutarik keluar menggesek daging liang vaginanya yang sempit dan licin. Untung saja air maniku yang tumpah tadi seolah membantu melicinkan pergesekan kedua alat kelamin kami. Aku merasa betapa liang vaginanya itu seolah berusaha menyedot dan mencengkeram kuat saat batang penisku berusaha menggesek keluar dan seakan seperti diremas, dilumat dan diurut begitu hebat tapi nikmat saat kembali kubenamkan batang penisku ke dalam liang vagina Tante Vivi.
“Aahhgghghgh.., aahhgghh..”

Mau tak mau aku kembali berkelojotan merasakan kenikmatan yang tiada tara. Seakan membangun kekuatan baru ketika kenikmatan menuju puncak ejakulasi itu mulai kurasakan muncul pada sekujur batang penisku. Aku semakin bersemangat dan dengan ritme teratur yang semakin lama semakin cepat, kuhunjam-hunjamkan dengan gemas batang penisku keluar masuk liang vagina Tante Vivi yang makin lama kurasakan juga makin menyempit lagi seperti hendak mendekati klimaknya.
“uuhh.., uuhh.., uhh.., uuhh.., uuhh..”, Tante Vivi mengerang semakin keras, kedua matanya kini dipejamkan rapat menikmati genjotan alat kejantananku yang bergerak semakin cepat seperti pompa ekplorasi minyak keluar masuk menggesek liang vaginanya. Aku tahu Tante Vivi sedang menuju puncak kenikmatan sexualnya. Kedua paha mulusnya yang mengapit lembut pinggangku sesekali dihentakkan ke bawah sambil mengejan kuat menahan kenikmatan. Wajahnya yang cantik kelihatan meringis saking tak kuatnya menahan rasa nikmat pada alat kemaluannya yang sedang kusetubuhi.

Aku benar-benar puas menyaksikan ekspresi wajahnya yang sedang didera pusaran kenikmatan yang kuciptakan di atas tubuhnya, seandainya saja ia juga tahu batang penisku yang sedang menggesek hebat liang vaginanya itu juga mulai menunjukkan tanda-tanda aktivitas bak gunung berapi yang hendak meletup. Namun karena ejakulasi pertamaku tadi, maka rasa nikmat luar biasa persetubuhan ini masih dapat kuredam dan kutahan lebih lama.
“aahh.., Vi.., ngghh.., vaginamu nikmat sekali sayang..”, erangku nakal. Tante Vivi tak menjawab, mulutnya yang menggemaskan itu hanya terus merintih berulangkali seiring dengan goyangan naik turun pinggulku yang makin kupercepat.
“Uuh.., hh.., uu.., hh.., uuhh.., uuhh..”, erang Tante Vivi semakin keras.

Menit demi menit berlalu yang terasa begitu lama dan melelahkan, entah sudah beberapa kali nyaris saja air maniku kembali muncrat ke dalam liang vagina Tante Vivi, gara-garanya ia mengejan terlalu kuat membuat jepitan daging liang vaginanya mendadak mengerut dan mengecil. Membuat batang penisku yang sudah mulai mendekati klimak seolah dilumat-lumat dan diremas-remas hebat. Batang penisku dibuatnya kelojotan keenakan, dan kedua kakiku sampai gemetaran meredam sekuatnya badai kenikmatan yang sontak menjalar di selangkanganku.

Sambil menggigit bibir menahan nikmat, kutelusupkan kedua jemari tanganku ke balik bokongnya yang bulat padat dan kenyal. Sembari kuremas gemas, kuhentak-hentakkan alat kejantananku keluar masuk menggesek liang vagina Tante Vivi secepat dan sekuat tenagaku. Kukayuh pinggulku naik turun dengan cepat, karena aku ingin segera menuntaskan persetubuhan ini.
“uuhh.., uhh.., uuhh.., uuhh.., uuhh.., uuhh”, aku merasa Tante Vivi begitu menyenangi permainan seks-ku yang sedikit kasar, pinggulnya sampai ikut digoyangkan kekiri dan kanan menikmati hunjaman demi hunjaman batang penisku yang memenuhi seluruh liang vaginanya yang semakin licin penuh cairan lendir kewanitaannya.

Sekitar 5 menit kemudian akhirnya pendakian puncak kenikmatan itu tergapai sudah, begitu lega rasanya melihat Tante Vivi sampai menggeliat-geliat hebat sembari menghentak-hentakkan kedua kakinya ke bawah dan mengejan kuat melepas kenikmatan orgasmenya yang telah menjadi penantiannya sekian lama. Mulutnya tanpa risih menjerit, memekik-mekik dan mengerang-erang dengan suara keras seakan tak peduli dengan keadaan sekeliling. Akupun tak peduli, yang jelas waktu itu tak pernah kulupakan kenikmatan yang kualami dari seorang wanita yang entah telah sekian lama hidup tanpa pemuasan batin. Kubenamkan sedalam-dalamnya seluruh batang penisku sepanjang 14 centi ke dalam liang kewanitaannya.

Sejenak kuhentikan gerakan naik turun pinggulku kini hanya sedikit kugerakkan memutar seolah batang penisku hendak memlintir daging liang vaginanya dan kubiarkan Tante Vivi merasakan seluruh sensasi kenikmatan puncak orgasmenya yang luar biasa. Begitu hebatnya kurasakan daging liang vaginanya menjepit batang penisku seakan hendak melumat habis, seakan dipilin-pilin dan dikenyot-kenyot kuat.
“aagghhff.., aahh”, aku sampai merem melek dan mengerang keenakan menikmati liang sorga dunianya yang sedang dilanda orgasme itu. Cairan lendir orgasmenya terasa menyembur lemah menghangati dan membasahi seluruh permukaan batang kejantananku yang sedang terjepit di dalamnya.
“aawww.., aawww.., sshh.., nngghh.., ngnngghh..”, erang Tante Vivi karena nikmatnya.
Saking nikmatnya, pantatnya sampai diangkat ke atas mendesak pinggulku yang juga sedang menekan alat kejantananku sedalam-dalamnya ke dalam liang vaginanya.

Kedua jemari tangan Tante Vivi sampai mencengkeram kuat kedua belah bokongku. Kuku-kuku jemari kedua tangannya seakan menghunjam masuk ke dalam kulit bokongku. Terasa sakit, namun aku tak peduli, kubiarkan Tante Vivi menikmati sepuasnya badai puncak orgasmenya yang panjang, kubiarkan daging liang vaginanya melumat habis batang kejantananku. Baru kali ini aku melihat seorang wanita yang orgasme saking begitu hebatnya sehingga tanpa risih lagi sampai berteriak-teriak seolah ingin melepaskan semua beban batin dalam dirinya akibat kenikmatan tak terkira yang melanda sekujur tubuhnya.
“oouuhh.., uuhh.., ngghh..”, erangnya keras berulang kali

Mungkin hanya sekitar 6-8 detik Tante Vivi tenggelam dalam lautan kenikmatan puncak orgasmenya, terasa singkat mungkin bagiku. Ketika pantatnya kembali dihempaskan ke atas pembaringan menandakan orgasmenya mulai berakhir, sambil kucumbu mesra mulutnya yang masih merintihkan sisa-sisa rasa kenikmatannya, kugerakkan pinggulku naik turun lagi secara amat perlahan menyetubuhinya kembali.
“Oouuhh..”. Aku mendesah nikmat merasakan jepitan liang vaginanya yang masih ketat sehabis orgasme, Cairan lendirnya yang keluar membasahi batang penisku terasa begitu licin dan hangat. Begitu nikmatnya saat alat kejantananku kutarik melungsur keluar dari dalam liang vagina Tante Vivi, seakan diurut dan dikenyot lembut. Uuhh.., kupejamkan kedua mataku meresapi kenikmatan liang surga dunia miliknya. Secara perlahan-lahan pula setelah hampir kira-kira 6-8 centi-an batang penisku keluar lalu kembali kubenamkan masuk ke dalam liang vaginanya yang kini seakan meremas dan memijat lembut. Sreengg.., rasanya aliran kenikmatan yang melanda alat kejantananku membuat air maniku perlahan-lahan mulai mendesak ingin muncrat keluar.

“oouu..”, erangku keenakan saat dengan nikmatnya liang vagina Tante Vivi kembali menjepit dan mengenyot seluruh batang penisku.
Begitu berulang kali, naik turun secara perlahan dengan ritme yang semakin lama semakin kupercepat menyetubuhi Tante Vivi yang kini setelah orgasmenya berakhir malah seolah hendak menggodaku. Entah sengaja atau tidak setiap kali batang penisku yang kutarik keluar hendak kubenamkam kembali menikmati jepitan daging hangatnya, pinggulnya digoyangkan manja kesamping kiri atau ke kanan, membuat alat kejantananku sampai keplintir serong kekiri atau kekanan pula.

“Vivii.., aduuhh.., nikmaatt..”, erangku pelan keenakan.
“Hik.., hik.., kamu mau keluar lagi sayang..”, bisik Tante Vivi genit di sebelah telingaku.
Aku tak menjawab dan hanya bisa merem melek menahan kenikmatan seks yang semakin lama semakin menggelora, air maniku semakin deras mengalir dan mendesak-desak di leher kepala penisku yang terjepit nikmat dalam liang vaginanya.
“mm.., punyamu tegang keras sekali Ar.., hik.., hik.., sudah mau keluar yaa..”, bisiknya genit.

Astaga.., aku tak mengira, dalam keadaan masyuk seperti ini ternyata Tante Vivi doyan sekali ngomong ngeres. Sebodo.., ahh..
“Nngghh..”, erangku semakin tak tahan.
“mm.., keluarin dong Ar..”, bisiknya genit semakin menggemaskan hati.
“Ohh.., jepit lebih keras Vii..”, erangku tak kalah genit.
“Mm.., seperti ini Ar.., mm..”
“aahhghghgghhghhghhghhgg..”, Aku mendelik dan menggeram keras saat kurasakan daging liang vagina Tante Vivi mengerut dan mengecil, seakan meremas-remas, mengurut-urut dan mengenyot seluruh batang penisku yang sedang meregang menahan kenikmatan.
Dan.., aahhghhghh.., aku tak kuat lagi dan menyerah..
“Craatt.., Craatt.., craatt..”
Air maniku bak tanggul jebol membanjir keluar dengan hebat di dalam liang vaginanya yang hangat. Kusembur-semburkan dengan nikmat sepenuh perasaan memenuhi liang senggamanya.
“oowww.., mm..”, Tante Vivi mendesah lirih saat air maniku menyembur-nyembur dengan kuat di dalam liang vaginanya yang hangat.
“aahhahh.., ku.., hamili kau Vii..”, erangku nakal, sambil terus kusembur-semburkan air maniku ke dalam rahimnya. Kuhentak-hentakkan dengan penuh nafsu alat kejantananku menggesek keluar masuk liang vaginanya yang semakin licin penuh cairan lendir kewanitaannya bercampur air maniku yang kental. Tante Vivi sesekali merintih kecil entah kesakitan atau nikmat menerima hunjaman batang penisku yang bergerak begitu buas mengoyak liang vaginanya yang sempit.
“Oowww.., iihh.., Ar.., Nggnnhh.., uu.., tegang sekali penismu sayang..”, rintihnya sambil mencengkeram bokongku yang bergerak turun naik dengan cepat dan kuat.
“Aahhgghhg.., Vii.., Sayangghh..”

Aku seakan terbang melayang ke atas awan, jauh membubung tinggi kesorga kenikmatan yang tiada tara.
“Uuhh.., Ar.., nggnghh.., manimu terasa kental sekali sayaang..”, rintih Tante Vivi genit.

Terasa begitu singkat namun begitu melelahkan sesudahnya. Tubuhku seakan lemas tak bertulang begitu 2 semburan terakhir yang merupakan semburan penghabisan, mengakhiri kenikmatan ejakulasiku. mm.., tubuhku seakan terhempas kembali jatuh ke bumi dan lemas tak berdaya.

Aku terbaring letih di atas tubuh Tante Vivi yang baru saja untuk kedua kali kureguk kenikmatan madu manis tubuhnya. Oouuh.., begitu indah rasanya meresapi sisa-sisa kenikmatan ejakulasi yang masih begitu terasa. Batang penisku yang masih terbenam di dalam liang senggamanya yang basah penuh cairan maniku yang seakan telah kehilangan kejantanannya. Loyoo.., Tetapi jepitan hangat daging liang vaginanya itu masih terasa nikmat, seakan mengurut-urut lembut. Kami saling berpelukan mesra, meresapi keindahan akhir persetubuhan yang sangat melelahkan namun penuh dengan sejuta kenikmatan yang tiada bandingnya di dunia ini. Kedua buah dadanya yang besar montok menekan lembut dan terasa begitu kenyal dan padat di dadaku yang bidang. Jemari kedua tangan Tante Vivi mengusap pelan dan sesekali memijit-mijit mesra pinggul dan bokongku yang terasa letih dan pegal. Mulut kami bercumbu hangat saling mengadu bibir seolah saling menukar kenikmatan.

“Mm cuupp.., cupp.., Ar.., kau benar-benar doyan seks yaa..”, bisk Tante Vivi gemas sambil berulang kali membalas kecupan bibirku yang masih bernafsu.
“Cupp.., entahlah Tante..”, bisikku lembut. Pertanyaan sederhananya itu seolah menyadarkanku kembali. Akal sehatku seakan kembali normal dan aahh.., rasa sesal itu kembali datang dan selalu saja datang dikala aku telah tuntas mereguk semua keinginan nafsu birahiku ingin rasanya kedua mata ini menangis mengapa aku begitu lemah dengan nafsu syahwatku sendiri.

Semenit kemudian.
Aku bergulir turun dari atas tubuh Tante Vivi, alat kejantananku yang mulai lemas mengecil seakan tercabut dari dalam liang vaginanya yang sempit hangat. Ia merintih kegelian.
Sejenak aku termenung.., memikirkan semua perbuatanku barusan, begitu lemahnya diri ini dengan yang namanya nafsu birahi. Bagaimana aku harus mempertanggungjawabkan semua ini kepada Selva.., aku benar-benar gila telah berani meniduri tantenya sendiri. Pikiranku seperti buntu memikirkan semuanya itu.
Seakan mengerti apa yang sedang kurenungkan, Tante Vivi mencium mulutku dengan hangat dan mengulum bibir bawahku sejenak. Anehnya aku sendiri tak bisa menolak dan membiarkan semua itu.
“Sudahlah Ar.., Tante mengerti apa yang kamu pikirkan.., ini cuma seks sayang.., tidak ada ikatan apapun diantara kita..,. selain.., seks..”, bisiknya lembut menenangkanku.
Mau tak mau aku tersenyum letih.
“Yaah.., Tante..”, jawabku pendek. Bingung!
“mm.., kita akan melakukannya lagi khan Sayaang..”, bisiknya kembali terus terang tanpa rasa sungkan lagi, sambil mengelus pipiku mesra.
Aku tak menjawab.., dan hanya bisa mengeluh dalam hati.., aku sudah keranjingan seks.., bagaimanapun nantinya.., kalau Tante Vivi menginginiku lagi, aku pasti menidurinya demi sekedar kenikmatan sesaat. aahh.., aku mengeluh pendek.


8.11.2008

Tante Vivi menjerit dan mengerang-erang dengan keras, pinggulnya menggeliat semakin hebat menahan kenikmatan yang kuberikan pada alat kelaminnya. Aku benar-benar puas bisa membuatnya seperti itu. Kuremas dan kucengkeram kuat bulatan bokongnya yang kenyal agar jangan bergerak terlalu liar, seolah tak ingin melepaskan pagutannya, mukaku sedikit kuangkat kembali sembari menghirup udara segar lalu lidahku kujulurkan sepanjang mungkin sambil menyusuri dan menjilati permukaan bukit kemaluan lunaknya yang putih merangsang. Mulutku tak henti-hentinya mengecup gemas bukit terlarang milik Tante Vivi itu.

“oouuhh.., nngghhnngghh.., ngghh..”, mulut Tante Vivi merintih dan mengerang tak karuan menahan geli dan nikmat. Pinggulnya digoyang-goyang kiri kanan, sesekali kurasakan kedua pahanya yang kini menjepit kepalaku sambil mengejan kuat ke bawah seolah ingin memuntahkan cairan kenikmatan tubuhnya. Memang kenyataannya demikian, lidahku yang sesekali menelusup masuk ke dalam liang vaginanya sambil menyentil gemas daging clitorisnya seolah menemukan sumber air kecil yang mengalir deras. Sementara tangan kiriku masih mencengkeram bokongnya, dengan gemas lalu kusibakkan dengan jemari tangan kananku bibir kemaluannya yang tebal, jemariku itu sampai gemetar seolah masih tak percaya dengan segala keindahan ini, terasa begitu lunak, hangat dan basah ketika jemari tanganku secara perlahan menyibakkan bibir kemaluannya mengintip keindahan celah dan liang vagina sempitnya yang ternyata berwarna kemerahan.

oohh.., kulihat.., liang vaginanya yang terletak sedikit di atas lubang duburnya, begitu kecil dan terlihat sempit sembari mengalirkan keluar cairan lendir kemaluannya yang berwarna bening. Agak di sebelah atas liang kewanitaannya itu kulihat bulatan daging kecil clitorisnya yang besarnya mirip seperti biji kacang ijo. Aku sedikit heran, karena liang vagina milik Tante Vivi ini kecilnya hampir sama dengan liang vagina milik Dina. Aahh.., batang penisku yang sudah berdiri tegak menunggu giliran untuk take over jadi makin cenat-cenut.., teng-teng tidak karuan.., tidak tahan nih kalau sempitnya seperti ini.., bisa-bisa tidak sampai digenjot 5 menit air maniku sudah muncrat keluar.., seperti yang aku rasakan bersama Dina akhir-akhir ini. Aku sendiri tidak habis pikir kenapa sewaktu aku dulu memperawani Dina bisa menahan gesekan dan jepitan liang vaginanya sampai 20 menit, tapi akhir-akhir ini bisa tahan tidak muncrat sampai 10 menit saja itu sudah lumayan. Mungkin saja aku terlalu terangsang saat menggagahi Dina. Entahlah.

“A.. Aarr.., Lagi sayangghh..”, Tante Vivi berbisik sedikit serak. Aku sejenak tersadar dari lamunan.., He.. He.., aku jadi geli juga.., di saat lagi asyik masyuk seperti itu masih bisa juga aku ngelamun.., ngeres lagi.., he.., he..”.
Kudongakkan kepala ke atas sambil kupandang wajah cantik Tante Vivi yang berkeringat agak kusut sekilas, lalu kutundukkan muka, lidahku dengan liar penuh rasa gemas kembali menjilati kedua belah permukaan labia mayoranya, kepalaku sedikit kuputar sekitar 40 derajat kekiri lalu dengan nikmat mulut dan lidahku mulai mencumbu, mengulum, memilin dan menghisap bibir-bibir kemaluan Tante Vivi secara bergantian atas dan bawah, seperti kalau kami berdua berciuman mulut.

mm.., rasanya yang jelas tidak selezat daging hamburger McDonald atau Wendys tapi yang pasti ada semacam feel great dan sensasi keindahan bercampur kenikmatan tersendiri yang tak bisa diungkapkan kata-kata begitu indah rasanya mengulum dan mengecup bibir kemaluan wanita sambil menikmati aroma khas bau alat kelaminnya dan juga suara erangan nikmatnya.
mm.., aku benar-benar bangga membuat Tante Vivi sampai berulang kali mengejan ke bawah menghentakkan kedua belah pahanya yang putih seksi, sambil tak henti-hentinya mulutnya memekik kecil dan merintih panjang menahan geli bercampur sejuta kenikmatan.
“Aahh.., nnggngghghh.., ngghghnhgghh..”, rintih Tante Vivi berulang kali.

Kurang lebih 2 menitan aku mengenyot kedua belah bibir labia mayoranya dengan mulutku lalu dengan nakal kembali kusibakkan sedikit lebih lebar bibir vaginanya dan dengan cepat kujulurkan lidahku mengusap lembut celah merah diantara bibir kemaluannya.., menyentil mulut liang vaginanya yang sempit dan mungil beberapa puluh detik lalu kembali menggelitik daging clitorisnya. Tante Vivi sampai menaik-turunkan pinggulnya menahan rasa nikmat. Saat bibir dan lidahku secara bersamaan menghisap dan memilin daging kecil clitorisnya sampai pipiku sedikit kempot, tiba-tiba Tante Vivi memekik keras dan akhirnya mendesah panjang.., pinggulnya sontak diangkat ke atas seolah tak kuat menahan rasa nikmat dan mengejan pelan. Kedua pahanya menjepit ketat kepalaku dari samping kiri dan kanan. Jemari tangan kiriku yang kini terasa bebas, mengusap mesra kedua belah bulatan bokong Tante Vivi dan meremas-remas lembut.
“Aagghh.., aoohh.., sshhghffhhghh..”
Desah Tante Vivi panjang. Aku tahu ia pasti sedang meregang menuju puncak kenikmatan.., Sedetik.., 2 detik.., 3 detik.., aku merasakan kedua belah pahanya yang begitu halus dan padat menekan kepalaku mulai bergetar lembut dan mengejan semakin kuat menandakan cairan lendir kenikmatannya segera tumpah keluar.., orgasmee.

Tetapi aku berpikir lain, seketika cepat kulepaskan hisapan mulutku pada daging clitorisnya dan dengan kuat kedua tanganku membuka kedua belah pahanya yang masih menjepit kepalaku. Begitu lepas, dengan sigap aku merangkak keatas dan rebah di samping tubuh bugil Tante Vivi. Kulihat Tante Vivi masih memejamkan kedua matanya seolah sedang menikmati sesuatu, sejenak begitu tersadar kenikmatan yang ia inginkan tak tercapai.., kedua matanya terbuka dan jelalatan setengah melotot memandang selangkangannya yang kosong.., dan Tante Vivi mendapati diriku telah berada di sebelahnya sambil kutersenyum penuh kemenangan.

Wajah cantiknya yang berkeringat kelihatan memerah seolah menahan sesuatu, bibir bawahnya digigit keras seperti geram, kedua matanya yang sedikit merah memandangku seolah mau marah. Aku semakin tersenyum lebar, namun tidak demikian dengan Tante Vivi.., rupanya ia jengkel karena hampir saja aku membuatnya orgasme namun justru aku malah menghentikannya ditengah jalan.
“K.., kkamu.., benar-benar nakal sekali Arr.., hh.., teganya kamu Sayang..”, bisiknya dengan bibir gemetar. Lalu dengan cepat tanpa kuduga sama sekali, Tante Vivi menggulingkan tubuh montok seksinya yang putih mulus ke atas menaiki tubuhku, Kedua pahanya dibuka lebar dan kedua belah bokongnya yang bulat padat terasa begitu kenyal dan tanpa ampun menduduki buah zakarku sementara bukit kemaluannya yang besar terasa begitu empuk menekan batang penisku yang sudah sangat tegang.., ooh.., nikmatnya.

Sambil menyunggingkan senyuman sadis Tante Vivi memandangku seolah ingin menelanku.
“Tante mau lihat sehebat apa kamu Arr..”, bisiknya pelan. Aku yang masih terkaget menyaksikan ulahnya tadi hanya bisa melongo sambil menikmati sentuhan tubuh montoknya pada alat kejantananku sambil memandangi kedua buah payudara besarnya yang mengacung kencang ke depan memamerkan kedua buah puting susunya yang kelihatan sedikit membesar keras dan berwarna coklat kemerahan.

Aku masih terpana memandang keindahan tubuhnya, ketika dengan cepat Tante Vivi mengangkat pinggulnya yang ramping ke atas, kedua belah pahanya yang putih mulus kelihatan begitu seksi dan padat. Begitu gemas saat jemari tangan kanan Tante Vivi menggenggam dan meremas batang penisku.., lalu di arahkan ke bukit kemaluannya sebelah bawah.., ke depan mulut liang vaginanya.., oohh.., aku mendesah pelan menyaksikan semua itu. Aku tidak menyangka Tante Vivi melakukan semua itu tanpa perasaan risih sedikitpun, mungkin ia sudah begitu ngebet dan liang vaginanya sudah gatal kepingin disetubuhi. Sejenak aku mengira ia pasti sukar sekali memasukkan batang penisku yang sudah berdiri tegak dan besar mirip punya Rocco Siffredi. Kuluruskan kedua pahaku ke bawah agar Tante Vivi tidak terlalu kesulitan menyetubuhiku nantinya. Tetapi kali ini aku kecele.., sambil menundukkan wajah yang membuat rambut panjangnya terurai indah, kulihat Tante Vivi sejenak berkutat masih mengarahkan batang penisku ke pintu liang vaginanya lalu dengan perlahan pinggulnya diturunkan.

Oogghh.., Aahh.., aku mendelik dan mengerang nikmat saat dengan mata kepalaku sendiri kulihat bibir kemaluannya yang tebal itu vaginaar lebar menerima tusukan kepala penisku dan liang vaginanya yang merah dan sempit mulai tersibak dan menjepit ujung kepala penisku yang secara perlahan-lahan mili demi mili mulut daging liang vaginanya semakin melebar sesuai ukuran kepala penisku dan mulai menenggelamkannya ke dalam liang vagina Tante Vivi.

“Oougghhghh.., nngngnghhaahh..”, pekikku keras menahan rasa nikmat yang luar biasa saat kepala penisku dalam 5 detik telah berhasil memasuki liang vaginanya yang ketat. aahh.., di dalam situ kurasakan daging vaginanya seolah sudah menjepit sedemikian kuat seolah diremas-remas membuat kepala penisku berdenyut-denyut keenakan.

Tante Vivi melepaskan jemari tangan kanannya dari batang penisku, kini kedua tangannya diletakkan di atas dadaku sambil setengah membungkuk untuk menyangga tubuhnya bagian bawah yang masih melakukan penetrasi. Ia kini memandangku dengan senyuman manisnya kembali, bibirnya yang ranum merekah indah. Kedua buah dadanya yang besar dan kencang kini setengah menggantung bak buah pepaya.
“Enaak.., Arr..”, bisik Tante Vivi tanpa malu-malu padaku.
“I.., iiyaa tantee..”, sahutku gemetar menahan rasa nikmat.
“Mm.., milikmu besar juga sayangg..”, bisiknya lagi. Lalu dengan perlahan-lahan Tante Vivi mulai menurunkan pinggulnya kebawah lagi sambil memejamkan mata. Namun mulutnya yang indah itu malah tersenyum seolah ikut menikmati apa yang sedang kurasakan sekarang.

“Aahhgghh..”, erangku keenakan saat daging liang vaginanya yang luar biasa sempit itu mili demi mili secara perlahan terus menjepit kuat dan menenggelamkan batang penisku yang masih tersisa sekitar 11 centi lagi. Dengan sekuat tenaga sambil menahan rasa nikmat kusaksikan terus proses penetrasi itu, urat-urat di seluruh batang penisku sampai menonjol keluar membentuk guratan-guratan kasar di sekeliling permukaan penis menahan jepitan daging liang vagina Tante Vivi yang terus berusaha menenggelamkan seluruh alat kejantananku itu. Mili demi mili kini berganti centi demi centi.., dengan tanpa hambatan berarti walau terasa begitu sesak dan sempit batang penisku melungsur masuk dengan ritme semakin cepat kedalam liang vaginanya.

“Mm.., aahh.., mm”, Tante Vivi hanya mendesah dan merintih kecil saat batang penisku yang besar dengan perlahan telah hampir seluruhnya tenggelam ke dalam bagian tubuhnya yang paling sangat terlarang. Hanya tinggal 2 centi saja kulihat batang penisku yang masih tersisa di luar liang vaginanya. Kedua mataku sudah merem melek keenakan, kedua pahaku sampai gemetaran saking hebatnya rasa nikmat itu.
“oowww..”
“Aaghghghh..”

Kami berdua mengerang nikmat hampir bersamaan, saat penetrasi yang terakhir berlangsung. Kulihat sekilas bukit kemaluan milik Tante Vivi itu sedikit menggembung lebih besar karena seluruh batang penisku yang tebal sepanjangnya 14 centi itu telah terbenam kandas di dalam liang vaginanya. Betapa indah menyaksikan dua alat kemaluan milik kami berdua yang telah menyatu padu. Selain jepitannya yang luar biasa ketat, kurasakan daging vagina Tante Vivi yang terasa hangat dan licin itu seolah memijat-mijat mesra dan menghisap lembut. Woowww..’ ujung jemari kakiku sampai gemetaran keenakkan.

“mm.., Bagaimana sayang..”, bisik Tante Vivi pelan sambil memandangku mesra sekali.
“Aahhghghg.., Nikmat sek.., kali Vii..”, sahutku gemetar.
Kedua pahanya yang mulus kini menjepit pinggangku mesra, sementara pinggulnya menempel selangkanganku dengan ketat. Bokongnya yang kenyal menduduki kedua buah bola zakarku.
“Air maniku.., mau keluar Tante..”, bisikku menahan nikmat sambil setengah menggodanya.
“Iihh.., Awas yaa kamu Ar..”, sahutnya sambil tersenyum. Ia seolah mengerti batang penisku tidak bakalan lama bertahan dijepit liang vagina miliknya seketat itu.
“Ar.., Tante sudah lama sekali tidak melakukan ini.., mm.., tahan ya sayang.., tunggu Tante yaa..”, bisiknya begitu genit sekali.

Lalu dengan perlahan Tante Vivi mulai menggoyangkan pinggulnya naik turun secara perlahan menggesekkan daging liang vagina sempitnya dengan batang penisku yang sudah tegak tak terkira. Seolah tidak ada hambatan walaupun terasa begitu sesak saking sempitnya ketika kedua alat kelamin kami saling beradu dan bergesekan.
“Uuhh.., uhh.., uhh..”, Tante Vivi merintih kecil saat setiap kali pinggulnya bergerak turun memasukkan kembali batang penisku yang besar dan keras ke dalam liang vaginanya. Wajahnya yang cantik bergoyang lembut seiring dengan goyangan pinggulnya yang menggemaskan di atas selangkanganku. Kedua matanya dipejamkan rapat seolah sedang meresapi dan menikmati persenggamaan yang benar-benar luar biasa indah ini. Kedua buah dadanya yang besar terguncang-guncang begitu indah bak buah kelapa tertiup angin. Kedua jemari tangannya yang menyangga dan menekan lembut dadaku menghentak-hentak pelan setiap kali pinggul Tante Vivi bergoyang pelan naik turun secara teratur.

Aku tak sanggup lagi menikmati semua sensasi indah ini sendirian. Aku masih seakan tak percaya melihat sesosok tubuh cantik bak bidadari yang begitu montok dan seksi, begitu putih dan mulus dan kini malah sedang asyik menggoyangkan pinggulnya yang aduhai di atas selangkanganku menikmati alat kejantananku.
“Oohhaahh.., hahahhgghh..”, erangku saking nikmatnya. Batang penisku seakan dikocok, dibelit, disedot dan dikenyot habis-habisan oleh daging liang vaginanya yang luarbiasa sempit dan licin. Kedua mataku merem-melek secara bergantian menikmati gesekan itu, setiap kali pinggul Tante Vivi bergerak ke atas aku merasa batang penisku seakan disedot kuat daging liang vaginanya namun begitu pinggulnya bergerak turun ke bawah batang penisku seakan diremas dan dilumat hebat oleh liang vaginanya.

Sukar diungkapkan dengan kata-kata rasa nikmatnya.
“Vivi.., aagghh.., aahahhgghh..”, erangku berulangkali keenakan. Kedua tanganku berusaha menahan laju naik turun pinggulnya yang kurang ajar itu. Namun jemari kedua tanganku seolah tiada bertenaga mengangkat bokongnya yang berat, dan tanpa ampun secara terus-menerus liang vagina Tante Vivi dengan jepitannya yang luar biasa meluluh lantakkan seluruh batang penisku seperti pisang kepok yang tak berdaya diremas dan dipilin-pilin sampai lumat. Aku tak sanggup bertahan meredam rasa nikmat seks yang luar biasa itu, air maniku sontak langsung mengalir mendesak-desak hendak muncrat keluar. Tante Vivi seolah tak mau tahu terus bergerak naik turun menggoyang pinggul mengeluar masukkan batang penisku ke dalam liang vagina sempitnya.

“Uuhh.., uuhh.., uu.., hh.., uuhh..”, erangnya berulangkali menikmati alat kejantananku yang sedang berada di dalam liang vaginanya.
“aahahh..”, aku mengerang panjang sambil sejenak menahan napas untuk menghambat agar air maniku tidak sampai muncrat keluar.
“uuh.., kamu mau keluar sayang..”, bisik Tante Vivi genit.
“Iyyaa.., Vi..”, sahutku gemas tanpa memanggilnya dengan sebutan Tante lagi
“ooh.., Aku bener-bener tidak tahan lagi.”
“Hik.., hik.., oke Sayang.., kamu keluar duluan Ar.., Tante jepit lebih keras yaa Sayang..”, bisiknya semakin genit tanpa malu-malu. Aku jadi makin gemas dibuatnya.

Tante Vivi memang benar-benar luar biasa sambil menggoyang pinggul semakin cepat naik turun, kurasakan daging liang vaginanya seolah menjepit 2 kali lebih hebat, batang penisku seolah diremas dan dikenyot-kenyot hebat sambil digesekkan keluar masuk meski hanya sekitar 4 centi saja.

oohh.., bak tanggul jebol akhirnya aku menyerah kalah.., aku tak mampu menahan desakan air maniku yang sudah sampai di leher batang penisku. Kuremas gemas kedua belah payudara Tante Vivi yang besar terguncang dengan kedua belah jemari tanganku. Aku menggeram keras dan melepas puncak kenikmatan seks.
“aagghhghghhgaahh..”, Teriakku nikmat.., saat dengan hebatnya air maniku muncrat keluar dengan tembakan-tembakannya yang keras dan kuat.
“Craatt.., craatt.., Crraatt.., craatt..” ke dalam liang vagina Tante Vivi yang sempit licin dan hangat.
“uu.., mm.., uu.., mm.., oowww.., banyak sekali manimu sayangghh.., uu..”, desahnya lembut saat air maniku kutembakkan berulang kali dengan sepenuh rasa nikmat ke dalam liang vaginanya.

Jiwaku seakan terbang melayang jauh keatas awan.., begitu tinggi.., terasa begitu nikmatnya, “Oohh..”. Tubuhku seakan menggelepar dirajam kenikmatan yang tak terkira, begitu indah dan enaknya saat daging liang vagina Tante Vivi yang menyempit hebat menggesek semakin cepat pula batang penisku yang sedang collapse.., ejakulasi, seakan milikku diurut-urut mesra sembari memuntahkan air mani yang sangat banyak dan kental.
Crraat.., crraatt.., crraatt.., creett..

Kira-kira 8 semburan nikmat yang memabukkan. Aku masih terlena diawan kenikmatan menikmati sisa-sisa semprotan air maniku yang masih tersembur keluar di dalam liang vaginanya. Tante Vivi dengan masih bersemangat menggenjot pinggulnya naik turun dengan cepat meluluh lantakkan alat kejantananku yang benar-benar sudah lumat terkuras. Jiwaku seakan kembali terhempas keatas tanah.., seolah terlempar dari pusaran awan kenikmatan yang terasa begitu singkat.


;;

Cerita Sex Untuk 17 pLus pLus

Anti Bugil

Cewek Linux Linuk Para Cewe Domain Co Cc mau co.cc

Anti Hacking

Cewek Hot


Template by Abdul Munir | Blog - Layout4all